Hari ini adalah hari minggu, itu
artinya keep calm and enjoy the weekend. Dimana banyak orang bersantai-santai,
ada pula yang berolahraga, bermain-main, bahkan ada yang bermalas-malasan.
Tetapi aku justru sibuk dengan urusanku yang lain, namun bukan soal kuliah atau
urusan akademikku lainnya juga bukan soal urusan organisasi melainkan soal
bisnis.
Pagi-pagi sekali setelahku sholat
subuh, aku bersama rekanku yakni si Hutapea orang batak yang pernah kuceritakan
sebelumnya, taampak sibuk menyiapkan segala macam alat, perlengkapan dan
barang-barang dagang yang akan kami jual. Terlihat olehku Hutapea sibuk
mengambil meja lipat praktis sederhananya yang berukuran 120 cm x 80 cm dari
bawah kasur tempat tidurnya. Sedangkan aku sibuk menyiapkan barang-barang yang
akan dijual seperti kripik-kripik yang kemarin sore sudah kubeli dari tempat
produksinya, ada pula minuman-minuman sirup segar bersama dengan es batu, ada
pula gorengan-gorengan kecil-kecilan, serta juga ada beberapa aksesoris seperti
pin, stiker, gelang dan masih banyak lagi yang aku persiapkan untuk di jual.
Lalu semua barang dagangan itu aku pilah-pilah sesuai jenisnya dan kumasukkan
ke dalam karus dan kantong plastic.
Kalau ditanya masalah modal, jelas
masih jadi kendala bagi aku dan Hutapea. Namun beruntung, kami mendapat
pinjaman dari BEM UI, karena salah satu bidang SDM atau biasa di sebut kemenetrian
perekonomian UI memang memiliki program tentang usaha mandiri mahasiswa. Tetapi
selain pinjaman, kami berdua juga saling kongsi.
Setelah
semua terlihat siap, kemudian kami angkut dan sangkutkan saja semua alat,
perlengkapan dan barang dagangan itu di bagian mana saja motor Hutapea yang
penting semua bisa terbawa ke lokasi Car Free day di Jalan Margonda Raya yang
terletak di luar area kampus UI yang jaraknya tak jauh dari rumah kost kami.
Ketika
dalam perjalanan, terlihat jalan masih sangat sepi, tampak Hutapea sangat risih
karena dia sedang memegang meja lipatnya sedangkan aku yang membawa motornya.
Akupun sambil tertawa lucu melihat ekspresi hutapea yang kesakitan.
“hahaha
wkwkwk hadohhh…” tawaku terbahak bahak.
“ishhh
kau ini, sudahlah! Cepat sedikit kakiku sakit ini…!” kata Hutapea sambil
menggoyang-goyangkan badannya seperti belut.
Kemudian sesampainya di lokasi
dagangan kami yang strategis. Aku dan Hutapea langsung membuka lapak dagangan.
“Hahhh,
akhirnya sampai juga. Sudah remuk badanku ini..” kata Hutapea sambil meluruskan
badan.
“Heiii
Hutapea, tolong ambilkan air mineral itu lalu letakkan disini..!” kataku pada
Hutapea sambil membuka kardus yang berisikan kripik tempe.
“Wahh,
parah kali kau belum juga aku istirahat.. okelah akan ku ambil, kalau tidak
karena teman mana mau aku capek-capek seperti ini.” Kata Hutapea sambil
geleng-geleng.
“Hahaha,
maaf deh. Sabar… namanya juga usaha..” kataku tersenyum.
Tetapi
belum juga siap dagangan kami datang seseorang dengan sepedah balapnya yang
beratribut lengkap.
“Pagi
dek.. ada jual air mineral?” tanya pembeli itu.
“Ohh
iya pak, ada ada mau merek yang mana pak?” jawabku dan bertanya balik.
“Yang
ini saja dek.. oh iyaa panggil saja saya Pak Tommy ya, salam kenal..” jawab
pembeli itu sambil mengenalkan diri.
“Ohh
iya Pak Tommy salam kenal juga, nama saya Raga dan ini rekan saya Hutapea.”
Kataku juga memperkenalkan diri.
“Ohh,
bagus sekali kalian bisa berusaha seperti ini ya, wahh apa lagi tempatnya
strategis ini. Oh iya berapa harganya?” tanya Pak Tommy sambil memuji kami.
“Ahh
bapak ini bisa saja.. harganya 5000 rupiah pak..” kata Hutapea.
“Ohh
iya.. ” kata Pak Tommy sambil menyerahkan uang kelipatan 10.000 rupiah.
“Terima
kasih pak, ini kembaliannya..” kataku menyerahkan kembalian,
“Ehhh,
sudah-sudah ambil saja kembaliannya, tidak apa-apa” kata Pak Tommy berbaik
hati.
“Wahh,
terima kasih banyak sekali pak..” kataku tersenyum.
Kemudian pergilah Pak Tommy si
pembeli pertama kami hari ini. Kemudian, berturut-turut datang pembel-pembeli
lainnya, tak lelah kami berjualan ketika melihat pundi-pundi rupiah masuk ke
dompet kami. Sungguh senang rasanya bisa berbisnis meskipun bisnis sederhana.
Yang terpenting adalah buang jauh-jauh yang namanya gengsi saat berdagang
karena kalau kami gengsi terus, kapan kami bisa kaya, yahh memang begitu
syaratnya berbisnis.
Dari pagi sampai siang, dari udara
yang yang segar sampai udara yang penu dengan debu, dari ramai aktifitas Car
Free Day sampai sepi, dari penuh dagangan kami sampai habis dagangan tersebut.
Alhamdulillah aku ucapkan didalam hati setiap selesai berjualan setiap
minggunya. Yaa, hitung-hitung untuk meringankan beban orang tua yang membiayai
kuliahku. Biasanya aku dan Hutapea juga membuka lapak pada hari minggu di jalan
Stasiun Pondok Cina. Kebetulan saja, minggu ini di jalan Margonda Raya sedang
ada Car Free Day. Maka jadilah kami kata pepatah diaman ada gula disitu pasti
ada semut.
Jalan Margonda Raya dan Jalan
Stasiun Pondok Cina tempat kami berjualan pada hari minggu ini berada di luar
area dari kampus UI. Biasanya pada hari-hari lain jika memang ada waktu kosong
atau mata kuliah yang sedikit biasanya Aku dan Hutapea juga menyempatkan diri
membuka lapak dagangan kami. Tetapi bukan diluar area kampus UI melainkan di
dalam area kampus UI seperti jalan Lingkar, Jalan Lingkar Utara, dan Jalan
Prof. Mr. DjokoSoetono.
Setelah selesai berdagang hari ini
dengan dagangan yang sudah habis terjual. Lalulah Aku dan Hutapea mengemaskan
barang dagangan.
“Alhamdulillah..”
kataku dalam hati.
“Booss,
tolong ikatkan kardus itu..!” kataku pada Hutapea.
“Oke
ga, Ayoo kita harus cepat, sudah siang ini..” kata hutapea sambil mengikat
kardus.
Setelah semua beres, kemudian kami
berjalan menuggangi motor Hutapea menuju kost sambil membawa banyak sekali alat
dan perlengkaan dagang. Semua terasa berat padahal dagangan kami sudah habis
terjual. Kemudian sampailah Aku dan Hutapea di muka gerbang rumah kost.
Terlihat Hutapea yang duduk dibelakangku berusaha turun dari motor sambil
memegangi meja lipatnya.
“Alhamdulillah
ya Allah atas segala rezeki yang Engkau berikan pada kami hari ini. Maka
jadikanlah Aku orang yang sabar, dekatkanlah diriku pada-Mu dan jangan jadikan
aku termasuk orang yang sombong.” Bisikku dalam hati saat Hutapea tengah sibuk
menurunkan alat dan perlengkapan dagang dari motor yang kutunggangi.
Sedikit lelah terasa, laluku
rebahkan badan sejenak di pendopo kecil yang ada di rumah kostku. Saat sedang
berbaring dan beristirahat itu Aku pun sambil berfikir bahwa sesungguhnya ini
semua berkat doa kedua orang tuaku yang takkan pernah putus, apalagi mereka
jauh dariku. Aku sangat beruntung masih bisa kuliah dengan beasiswa yang sangat
membantuku dalam proses pembiayaan kuliah. Padahal diluar sana masih banyak
anak-anak yang bernasib lebih buruk dariku. Dan aku juga berfikir bahwa selama
diperantauan ini hanyalah teman sejati yang bisa membantuku meringankan beban dalam
menjalani hidup di dunia kampus ini yang bagiku kampus adalah dunia asing
bagiku. Dan aku juga berfikir bahwa segala sesuatu yang besar selalu dimulai
dari yang kecil terlebih dahulu, sama halnya dengan yang Aku dan Hutapea
lakukan hari ini.
Setiap harinya adalah peluang dan
kesempatan, setiap aku berdoa dalam sholatku akan selalu ada harapan yang
terpatri dalam hati yakni untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi secara
akademik dengan IPK yang memuaskan. Kemudian untuk menjadi mahasiswa yang aktif
dalam berbagi organisasi. Dan terakhir, Aku berharap untuk menjadi mahasiswa
yang mandiri secara ekonomi tanpa memberatkan orang tua lagi. Dan untungnya
ketiga harapan itu sudah mulai aku perjuangkan untuk diraih.
Meskipun susah dan sulit semasa awal
kuliah ini, namun semua aku hadapi dengan gagah berani, karena orang-orang yang
sukses adalah yang mampu melewati kesuliatn-kesulitan dalam hidupnya, bukannya
mengabaikan apalagi sampai lari dari kesulitan. Sama halnya dengan berbisnis,
bagiku awal memang sulit dimana perasaan malu dan gengsi selalu menghantuiku,
namun semua itu kulawan gagah berani.
~Sekian. Karya: I'ib Persada
0 Comments
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.