Cerpen Kuliah Part II “Sang Entrepreneur”

             Terdengar suara ayam jago yang berkokok membangunkan tidur pulasku, meski sesungguhnya itu bukanlah suara ayam jago sungguhan melainkan hanyalah sekedar suara nada dering alarm Handphoneku. Dikala terbit fajar sampai terbit matahari kupersiapkan segalanya untuk hari ini. Mulai dari persiapan mental seperti sholat subuh, persiapan badan seperti sarapan dan senam pemanasan sederhana, dan yang paling penting adalah persiapan jualan seperti barang-barang, alat, dan perlengkapan daganganku.
            Hari ini adalah hari minggu, itu artinya keep calm and enjoy the weekend. Dimana banyak orang bersantai-santai, ada pula yang berolahraga, bermain-main, bahkan ada yang bermalas-malasan. Tetapi aku justru sibuk dengan urusanku yang lain, namun bukan soal kuliah atau urusan akademikku lainnya juga bukan soal urusan organisasi melainkan soal bisnis.
            Pagi-pagi sekali setelahku sholat subuh, aku bersama rekanku yakni si Hutapea orang batak yang pernah kuceritakan sebelumnya, taampak sibuk menyiapkan segala macam alat, perlengkapan dan barang-barang dagang yang akan kami jual. Terlihat olehku Hutapea sibuk mengambil meja lipat praktis sederhananya yang berukuran 120 cm x 80 cm dari bawah kasur tempat tidurnya. Sedangkan aku sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dijual seperti kripik-kripik yang kemarin sore sudah kubeli dari tempat produksinya, ada pula minuman-minuman sirup segar bersama dengan es batu, ada pula gorengan-gorengan kecil-kecilan, serta juga ada beberapa aksesoris seperti pin, stiker, gelang dan masih banyak lagi yang aku persiapkan untuk di jual. Lalu semua barang dagangan itu aku pilah-pilah sesuai jenisnya dan kumasukkan ke dalam karus dan kantong plastic.
            Kalau ditanya masalah modal, jelas masih jadi kendala bagi aku dan Hutapea. Namun beruntung, kami mendapat pinjaman dari BEM UI, karena salah satu bidang SDM atau biasa di sebut kemenetrian perekonomian UI memang memiliki program tentang usaha mandiri mahasiswa. Tetapi selain pinjaman, kami berdua juga saling kongsi.
Setelah semua terlihat siap, kemudian kami angkut dan sangkutkan saja semua alat, perlengkapan dan barang dagangan itu di bagian mana saja motor Hutapea yang penting semua bisa terbawa ke lokasi Car Free day di Jalan Margonda Raya yang terletak di luar area kampus UI yang jaraknya tak jauh dari rumah kost kami.
Ketika dalam perjalanan, terlihat jalan masih sangat sepi, tampak Hutapea sangat risih karena dia sedang memegang meja lipatnya sedangkan aku yang membawa motornya. Akupun sambil tertawa lucu melihat ekspresi hutapea yang kesakitan.
“hahaha wkwkwk hadohhh…” tawaku terbahak bahak.
“ishhh kau ini, sudahlah! Cepat sedikit kakiku sakit ini…!” kata Hutapea sambil menggoyang-goyangkan badannya seperti belut.
            Kemudian sesampainya di lokasi dagangan kami yang strategis. Aku dan Hutapea langsung membuka lapak dagangan.
“Hahhh, akhirnya sampai juga. Sudah remuk badanku ini..” kata Hutapea sambil meluruskan badan.
“Heiii Hutapea, tolong ambilkan air mineral itu lalu letakkan disini..!” kataku pada Hutapea sambil membuka kardus yang berisikan kripik tempe.
“Wahh, parah kali kau belum juga aku istirahat.. okelah akan ku ambil, kalau tidak karena teman mana mau aku capek-capek seperti ini.” Kata Hutapea sambil geleng-geleng.
“Hahaha, maaf deh. Sabar… namanya juga usaha..” kataku tersenyum.
Tetapi belum juga siap dagangan kami datang seseorang dengan sepedah balapnya yang beratribut lengkap.
“Pagi dek.. ada jual air mineral?” tanya pembeli itu.
“Ohh iya pak, ada ada mau merek yang mana pak?” jawabku dan bertanya balik.
“Yang ini saja dek.. oh iyaa panggil saja saya Pak Tommy ya, salam kenal..” jawab pembeli itu sambil mengenalkan diri.
“Ohh iya Pak Tommy salam kenal juga, nama saya Raga dan ini rekan saya Hutapea.” Kataku juga memperkenalkan diri.
“Ohh, bagus sekali kalian bisa berusaha seperti ini ya, wahh apa lagi tempatnya strategis ini. Oh iya berapa harganya?” tanya Pak Tommy sambil memuji kami.
“Ahh bapak ini bisa saja.. harganya 5000 rupiah pak..” kata Hutapea.
“Ohh iya.. ” kata Pak Tommy sambil menyerahkan uang kelipatan 10.000 rupiah.
“Terima kasih pak, ini kembaliannya..” kataku menyerahkan kembalian,
“Ehhh, sudah-sudah ambil saja kembaliannya, tidak apa-apa” kata Pak Tommy berbaik hati.
“Wahh, terima kasih banyak sekali pak..” kataku tersenyum.
            Kemudian pergilah Pak Tommy si pembeli pertama kami hari ini. Kemudian, berturut-turut datang pembel-pembeli lainnya, tak lelah kami berjualan ketika melihat pundi-pundi rupiah masuk ke dompet kami. Sungguh senang rasanya bisa berbisnis meskipun bisnis sederhana. Yang terpenting adalah buang jauh-jauh yang namanya gengsi saat berdagang karena kalau kami gengsi terus, kapan kami bisa kaya, yahh memang begitu syaratnya berbisnis.
            Dari pagi sampai siang, dari udara yang yang segar sampai udara yang penu dengan debu, dari ramai aktifitas Car Free Day sampai sepi, dari penuh dagangan kami sampai habis dagangan tersebut. Alhamdulillah aku ucapkan didalam hati setiap selesai berjualan setiap minggunya. Yaa, hitung-hitung untuk meringankan beban orang tua yang membiayai kuliahku. Biasanya aku dan Hutapea juga membuka lapak pada hari minggu di jalan Stasiun Pondok Cina. Kebetulan saja, minggu ini di jalan Margonda Raya sedang ada Car Free Day. Maka jadilah kami kata pepatah diaman ada gula disitu pasti ada semut.
            Jalan Margonda Raya dan Jalan Stasiun Pondok Cina tempat kami berjualan pada hari minggu ini berada di luar area dari kampus UI. Biasanya pada hari-hari lain jika memang ada waktu kosong atau mata kuliah yang sedikit biasanya Aku dan Hutapea juga menyempatkan diri membuka lapak dagangan kami. Tetapi bukan diluar area kampus UI melainkan di dalam area kampus UI seperti jalan Lingkar, Jalan Lingkar Utara, dan Jalan Prof. Mr. DjokoSoetono.
            Setelah selesai berdagang hari ini dengan dagangan yang sudah habis terjual. Lalulah Aku dan Hutapea mengemaskan barang dagangan.
“Alhamdulillah..” kataku dalam hati.
“Booss, tolong ikatkan kardus itu..!” kataku pada Hutapea.
“Oke ga, Ayoo kita harus cepat, sudah siang ini..” kata hutapea sambil mengikat kardus.
            Setelah semua beres, kemudian kami berjalan menuggangi motor Hutapea menuju kost sambil membawa banyak sekali alat dan perlengkaan dagang. Semua terasa berat padahal dagangan kami sudah habis terjual. Kemudian sampailah Aku dan Hutapea di muka gerbang rumah kost. Terlihat Hutapea yang duduk dibelakangku berusaha turun dari motor sambil memegangi meja lipatnya.
“Alhamdulillah ya Allah atas segala rezeki yang Engkau berikan pada kami hari ini. Maka jadikanlah Aku orang yang sabar, dekatkanlah diriku pada-Mu dan jangan jadikan aku termasuk orang yang sombong.” Bisikku dalam hati saat Hutapea tengah sibuk menurunkan alat dan perlengkapan dagang dari motor yang kutunggangi.
            Sedikit lelah terasa, laluku rebahkan badan sejenak di pendopo kecil yang ada di rumah kostku. Saat sedang berbaring dan beristirahat itu Aku pun sambil berfikir bahwa sesungguhnya ini semua berkat doa kedua orang tuaku yang takkan pernah putus, apalagi mereka jauh dariku. Aku sangat beruntung masih bisa kuliah dengan beasiswa yang sangat membantuku dalam proses pembiayaan kuliah. Padahal diluar sana masih banyak anak-anak yang bernasib lebih buruk dariku. Dan aku juga berfikir bahwa selama diperantauan ini hanyalah teman sejati yang bisa membantuku meringankan beban dalam menjalani hidup di dunia kampus ini yang bagiku kampus adalah dunia asing bagiku. Dan aku juga berfikir bahwa segala sesuatu yang besar selalu dimulai dari yang kecil terlebih dahulu, sama halnya dengan yang Aku dan Hutapea lakukan hari ini.
            Setiap harinya adalah peluang dan kesempatan, setiap aku berdoa dalam sholatku akan selalu ada harapan yang terpatri dalam hati yakni untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi secara akademik dengan IPK yang memuaskan. Kemudian untuk menjadi mahasiswa yang aktif dalam berbagi organisasi. Dan terakhir, Aku berharap untuk menjadi mahasiswa yang mandiri secara ekonomi tanpa memberatkan orang tua lagi. Dan untungnya ketiga harapan itu sudah mulai aku perjuangkan untuk diraih.
            Meskipun susah dan sulit semasa awal kuliah ini, namun semua aku hadapi dengan gagah berani, karena orang-orang yang sukses adalah yang mampu melewati kesuliatn-kesulitan dalam hidupnya, bukannya mengabaikan apalagi sampai lari dari kesulitan. Sama halnya dengan berbisnis, bagiku awal memang sulit dimana perasaan malu dan gengsi selalu menghantuiku, namun semua itu kulawan gagah berani.

~Sekian. Karya: I'ib Persada


Post a Comment

0 Comments