Cahaya mentari datang menjumpaiku
yang masuk lewat celah-celah ventilasi pintu jendelaku dan masuk lewat celah
kaya jendela kamar kecilku yang berukuran 2x3 meter itu. Kamar yang penuh sesak
dengan berbagai macam perabotan rumah tangga seperti lemari, kasur, alat masak,
kompor, ember cucian dan masih banyak lagi, semua itu kupaksakan dapat
tersimpan dan muat didalam kamar kost mungilku itu.
Sedikit resah hati ini sering terasa
ketika mngingat orang tua nan jauh disebrang pulau sana. Disini aku sendirian
hanya bersama teman-teman baru yang belum begitu kukenal. Pagi tiu, ku bersiap
menuju kampus perantauanku. Kusiapkan buku-buku didalam tas tampak mereka
berbaris rapi didalamnya, tak risauku untuk sarapan meskipun hanya memakan roti
kemarin malam dan minum air putih, namun mau bagaimana lagi meliahat dompet
dompet yang juga keroncongan belum diisi. Kemudian kukemasi barang-barang dan kubersihkan
kamar kost ku setiap paginya walaupun terasa sulit tapi itu lebih baik karena
membersihkan kenangan di dalam kost ini yang akan terasa lebih sulit jika suatu
saat nanti aku hengkang dari tempat ini.
Lalu, kususuri lorong rumah kost
ini. Terlihat ibu Wati si pemilik kost ini sedang membersihkan pekarangan
rumah. Juga tampak teman-teman ada yang sedang mencuci, sarapan bubur, dan ada
pula yang sedang bersantai bermain gitar.
“Haii
Raga, pagi kali kau ke kampus?” kata Hutape si orang batak.
“Hehehe,
maklumlah bos, ada jam kuliah pagi.” Jawabku sambil berjalan melewatinya menuju
pagar rumah kost.
Akhirnya kaki ini melangkah ke
kampus meniti jalan tanpa kendaraan. Apalah daya untuk membeli motor atau hidup
lebih nyaman, sedangkan ayahku nan jauh di pulau borneo sana hanya ingin aku
sukses dan bisa bermanfaat bagi orang banyak, sedangkan ibuku yang lebih jauh
dari ayah, ibuku berada pada dimensi yang berbeda dariku. Mungkin saat ini ia
sedang melihatku dengan penuh harapan.
Di Kampus kuning ini atau biasa
dikenal dengan Universitas Indonesia, kurajut impian di Fakultas Hukum. Di kota
Batavia ini pula aku memulai perantauanku jauh dari orang tua. Setiap kali aku
berjalan menuju kampus melewati jalan Lingkar (ini adalah salah satu jalan yang
terdapat di dalam area Universitas Indonesia) selalu kuingat targetku, yakni
untuk menjadi seorang Mahasiswa yang berprestasi secara Akademik dan tidak lupa
pula untuk menjadi aktif dalam berbagai organisasi Non Akademik. Jika aku yakin
akan bisa, kenapa tidak?.
Ketia aku sampai di kampus, terlihat
Susana yang sangat sibuk. Banyak orang-orang pintar dari seluruh Indonesia
berkumpul disini. Lalu aku melihat 2 orang melambaikan tangan dan menyapaku,
rupanya itu teman dekatku.
“Hai
Raga, apa kabarnye?” tanya roni dengan nada melayu yang dipaksakan.
“Baik
Ron, hahaha, udah udah jangan bicara melayu lagi, gak cocol lu ron. Mending
kita ngomong betawi aje. hehe” kataku santai.
“hahaha,
ron.. ron.., udah yuk kita ke kelas, bentar lagi jam kuliah pengantar hokum
islam dimulai nih.” kata bima memaksa.
Itulah Roni dan Bima, dua oranh
pertama yang kukenal di kampus saat Ospek 3 bulan yang lalu. Roni adalah
seorang bugis yang berasal dari kota Makassar. Orangnya sangat lucu dan suka
menghibur, rambutnya terlihat keriting lebih kusut dari rambutku.
Kemudian Bima adalah orang asli dari
Nusa Tenggara Timur, katanya rumahnya berada dekat dengan kepulauan komodo. Dia
orangnya pemberani dan sedikit keras kepala bila punya suatu keinginan.
Kulitnya jelas berwarna hitam salak. Rambutnya pun juga keriting, tetapi
tampaknya rambutkulah yang tak terlalu kusut bila dibandingkan dengan mereka
berdua. Kami biasa disebut oleh senior si trio kribo.
Saat dikelas Dosen pun membuka
perkuliahan dengan menyampaikan materi-materi hokum islam. Aku pun menyimak
dengan seksama, menggerakkan jari jemari dan membekaskan tinta pada kertas buku
catatanku. Nasrani, Budhis, dan Muslim semua bersama-sama menyimak dosen mata
kuliah ini. Mata kuliah Hukum Islam ini memang sudah jadi kurikulum perkuliahan
hokum, tidak peduli mahasiswanya Islam atau Non islam, karena pada kenyataannya
mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam dan dasar hukum serta aturan
hukum yang di gunakan juga Hukum islam, misalnya dalam aturan tentang
Perkawinan, Waqaf, Shadakah, waris, dan masih ada lagi semua itu tertera dalam
Undang-Undang. Itulah mengapa mahasiswa Non Islam juga wajib belajar mata
kuliah ini.
Terjadi percakapan yang luar biasa
dan diskusi yang berkualitas di kelas saat ini. Ketika dosen membuka sesi tanya
jawab, berbagai opini pun langsung terlontar dari beberapa mahasiswa. Akupun
tak mau kalah, aku berusaha untuk menjadi lebih aktif menyampaikan pertanyaan,
sanggahan dan opini yang kritis tentang materi yang disampaikan. Terjadi
diskusi yang mengasikkan sekali, terlihat Roni dan Bima juga tak mau kalah. Hal
tersebut membuatku jadi bersemangat supaya dapat berprestasi secara akademik,
mampu lulus cepat dengan IPK yang memuasakan. Di kampus perantauanku ini, aku
tak akan pernah patah semangat, supaya harapan dan mimpi orang tuaku nan jauh
disana tetap bisa hidup dan menjadi kenyataan, walaupun sesungguhnya Ibuku
sudah tiada.
Waktu terus bergulir, Mata kuliah
terus berganti, Dosen juga ikut berganti, tak terasa sudah 3 mata kuliah
kulalui hari ini. Tepat pukul 14.00 aku keluar dari kampus, aku melihat
teman-temanku yang lain, mereka da yang langsung pulang, ada yang langsung ke
kantin, ada yang nongkrong dulu, ada yang masih saja belajar di perpustakaan.
Aku justru ketempat yang ada amanah dan tanggungjawab lain didalamnya. Meskipun
akau baru 3 bulan menjadi mahasiswa alias masih Maba atau Mahasiswa Baru,
tetapi aku sudah mengikuti beberapa organisasi internal kampus dan eksternal
kampus. Ada beberapa Organisasi yang kupilih yakni organisasi Kerohanian,
Sospol, dan Alam.
“Roni!
Bima! Aku pergi dulu ya??” kataku tersenyum.
“Oh
oke.. hati-hati ga..” jawab bima santai di depan gerbang kampus.
“Sip,
memangnya kamu mau kemana ga? Pulangkah?” tanya Roni bingung.
“Bukan
pulang.., biasalah aktifis baru kerjaanya kayak kura-kura alias kuliah-rapat
kuliah-rapat hehe. Ehmmm?! Jadi aku mau ke secretariat BEM UI, ada rapat
soalnya aku kan panita MUNAS BEM tahun ini.” Jawabku lengkap.
“Wuihhh
mantappp, okelah kalo begitu. Hati-hati ga, tetap semangat!” Kata Roni sambil
menganggukkan kepala dan mengepalkan tangannya.
“Mantap
ga, aku juga mau ke Sekretariat…” kata bima setengah.
“Sekretariat
mana?” tanyaku.
“Biasalah
anak seni.. hehe” jawab bima santai.
Setelah bercakap-cakap kami pun
menghilangkan pandangan dan pergi membawa urusan kami masing-masing. Bagiku
berorganisasi juga merupakan sesuatu yang juga penting, diman aku bisa belajar
banyak hal. Karena jika hanya belajar di kampus, aku tak akan bisa dapat
pengalaman lebih. Tetapi jika berorganisasi melakukan aktifitas selain belajar di
kampus seperti ikut salah satu LOK (Lembaga Organisasi Kampus) dan UKM (Unit
Kegiatan Mahasiswa) aku bisa menyalurkan apapun bakatku, contohnya saja Aku dan
Bima yang memiliki minat yang berbeda meskipun sesame mahasiswa Hukum. Jika aku
senang dengan Sosial Politik maka aku ikut BEM, sedangkan Bima yang senang Seni
maka dia mengikuti UKM seni di kampus.
Terasa lelah dan kantuk tubuh ini
ketika berada di ruang rapat. Namun semua itu hilang seketika saat terjadi
diskusi-diskusi seru tentang kepanitiaan. Akupun berusaha menyampaikan pendapat
terbaikku. Dalm kepanitiaan selalu ada ketua, sekretaris, bendahara dan
bidang-bidang lain. Kami juga selalu ada membahas yang namanya Proposal
kegiatan, belum lagi masalah-masalah yang harus diselesaikan seperti biaya, mencari
narasumber pengisi acara, dan masih banyak yang harus kami bahas kali ini.
Terlihat ketua panitia tampak menguras pikiran. Dalam kepanitiaan ini kami
sangat merasakan ada suatu kepentingan, minat, dan tujuan yang sama, sehingga
rasa kebersamaan dalam menghadapi setiap tantangan begitu kental terasa.
Terlihat mentari begitu lelah
menyinari hariku, sedikit demi sedikit ia meredupkan sinarnya. Langitpun tampak
berwarna orange. Setelah rapat berakhir, aku berjalan pulang menuju kost
melewati jalan Lingkar Utara (salah satu jalan yang berada di dalam area
kampus). Dengan wajah kusut dan badan yang terasa berat membawa keletihan jelas
sulit untukku berjalan. Ingin rasanya aku mengeluh, tetapi itu bukanlah sifat
seorang pemimpin sejati, sedangkan cita-citaku adalah menjadi seorang pemimpin
negeri yang dapat mensejahterakan rakyat. Memang terpikir dalam otakku bahwa
masih ada tugas menumpuk yang harus dikumpulkan esok hari artinya itu harus
kuselesaikan malam ini, dan itu kuanggap sebagai sebuah tantangan. Memang
terasa sulit ketika aku harus membuat antara kuliah dan organisasi berjalan
seimbang. Mimpi dan harapan selalu ada dalam hatiku, tidak peduli walau
hari-hariku akan lebih sulit, karena bagiku setiap orang yang sukses didunia
ini adalah mereka yang selalu menghadapi kesulitan hidupnya dengan gagah
berani, dengan mengangkat mata dan kepalanya penuh keyakinan. Bukannya
orang-orang yang lari dari kesulitan.
~Sekian. Karya: I'ib Persada
0 Comments
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.