Cerpen Kuliah Part 1 “Sang Aktifis”

              Pagi-pagi sekali aku terbangun dari tidur pulasku, terdengar suara alarm Handphone. Terasa lengket mata dan berat badan untuk terbangun. Suara adzan subuh pun berkumandang bersamaan dengan itu kubasuh badan dengan air Wudlu. Berpasrahlah aku pada tuhan sambil menengadahkan tangan seraya memohon pada sang maha pencipta pemberi kasih sayang.
            Cahaya mentari datang menjumpaiku yang masuk lewat celah-celah ventilasi pintu jendelaku dan masuk lewat celah kaya jendela kamar kecilku yang berukuran 2x3 meter itu. Kamar yang penuh sesak dengan berbagai macam perabotan rumah tangga seperti lemari, kasur, alat masak, kompor, ember cucian dan masih banyak lagi, semua itu kupaksakan dapat tersimpan dan muat didalam kamar kost mungilku itu.
            Sedikit resah hati ini sering terasa ketika mngingat orang tua nan jauh disebrang pulau sana. Disini aku sendirian hanya bersama teman-teman baru yang belum begitu kukenal. Pagi tiu, ku bersiap menuju kampus perantauanku. Kusiapkan buku-buku didalam tas tampak mereka berbaris rapi didalamnya, tak risauku untuk sarapan meskipun hanya memakan roti kemarin malam dan minum air putih, namun mau bagaimana lagi meliahat dompet dompet yang juga keroncongan belum diisi. Kemudian kukemasi barang-barang dan kubersihkan kamar kost ku setiap paginya walaupun terasa sulit tapi itu lebih baik karena membersihkan kenangan di dalam kost ini yang akan terasa lebih sulit jika suatu saat nanti aku hengkang dari tempat ini.
            Lalu, kususuri lorong rumah kost ini. Terlihat ibu Wati si pemilik kost ini sedang membersihkan pekarangan rumah. Juga tampak teman-teman ada yang sedang mencuci, sarapan bubur, dan ada pula yang sedang bersantai bermain gitar.
“Haii Raga, pagi kali kau ke kampus?” kata Hutape si orang batak.
“Hehehe, maklumlah bos, ada jam kuliah pagi.” Jawabku sambil berjalan melewatinya menuju pagar rumah kost.
            Akhirnya kaki ini melangkah ke kampus meniti jalan tanpa kendaraan. Apalah daya untuk membeli motor atau hidup lebih nyaman, sedangkan ayahku nan jauh di pulau borneo sana hanya ingin aku sukses dan bisa bermanfaat bagi orang banyak, sedangkan ibuku yang lebih jauh dari ayah, ibuku berada pada dimensi yang berbeda dariku. Mungkin saat ini ia sedang melihatku dengan penuh harapan.
            Di Kampus kuning ini atau biasa dikenal dengan Universitas Indonesia, kurajut impian di Fakultas Hukum. Di kota Batavia ini pula aku memulai perantauanku jauh dari orang tua. Setiap kali aku berjalan menuju kampus melewati jalan Lingkar (ini adalah salah satu jalan yang terdapat di dalam area Universitas Indonesia) selalu kuingat targetku, yakni untuk menjadi seorang Mahasiswa yang berprestasi secara Akademik dan tidak lupa pula untuk menjadi aktif dalam berbagai organisasi Non Akademik. Jika aku yakin akan bisa, kenapa tidak?.
            Ketia aku sampai di kampus, terlihat Susana yang sangat sibuk. Banyak orang-orang pintar dari seluruh Indonesia berkumpul disini. Lalu aku melihat 2 orang melambaikan tangan dan menyapaku, rupanya itu teman dekatku.
“Hai Raga, apa kabarnye?” tanya roni dengan nada melayu yang dipaksakan.
“Baik Ron, hahaha, udah udah jangan bicara melayu lagi, gak cocol lu ron. Mending kita ngomong betawi aje. hehe” kataku santai.
“hahaha, ron.. ron.., udah yuk kita ke kelas, bentar lagi jam kuliah pengantar hokum islam dimulai nih.” kata bima memaksa.
            Itulah Roni dan Bima, dua oranh pertama yang kukenal di kampus saat Ospek 3 bulan yang lalu. Roni adalah seorang bugis yang berasal dari kota Makassar. Orangnya sangat lucu dan suka menghibur, rambutnya terlihat keriting lebih kusut dari rambutku.
            Kemudian Bima adalah orang asli dari Nusa Tenggara Timur, katanya rumahnya berada dekat dengan kepulauan komodo. Dia orangnya pemberani dan sedikit keras kepala bila punya suatu keinginan. Kulitnya jelas berwarna hitam salak. Rambutnya pun juga keriting, tetapi tampaknya rambutkulah yang tak terlalu kusut bila dibandingkan dengan mereka berdua. Kami biasa disebut oleh senior si trio kribo.
            Saat dikelas Dosen pun membuka perkuliahan dengan menyampaikan materi-materi hokum islam. Aku pun menyimak dengan seksama, menggerakkan jari jemari dan membekaskan tinta pada kertas buku catatanku. Nasrani, Budhis, dan Muslim semua bersama-sama menyimak dosen mata kuliah ini. Mata kuliah Hukum Islam ini memang sudah jadi kurikulum perkuliahan hokum, tidak peduli mahasiswanya Islam atau Non islam, karena pada kenyataannya mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam dan dasar hukum serta aturan hukum yang di gunakan juga Hukum islam, misalnya dalam aturan tentang Perkawinan, Waqaf, Shadakah, waris, dan masih ada lagi semua itu tertera dalam Undang-Undang. Itulah mengapa mahasiswa Non Islam juga wajib belajar mata kuliah ini.
            Terjadi percakapan yang luar biasa dan diskusi yang berkualitas di kelas saat ini. Ketika dosen membuka sesi tanya jawab, berbagai opini pun langsung terlontar dari beberapa mahasiswa. Akupun tak mau kalah, aku berusaha untuk menjadi lebih aktif menyampaikan pertanyaan, sanggahan dan opini yang kritis tentang materi yang disampaikan. Terjadi diskusi yang mengasikkan sekali, terlihat Roni dan Bima juga tak mau kalah. Hal tersebut membuatku jadi bersemangat supaya dapat berprestasi secara akademik, mampu lulus cepat dengan IPK yang memuasakan. Di kampus perantauanku ini, aku tak akan pernah patah semangat, supaya harapan dan mimpi orang tuaku nan jauh disana tetap bisa hidup dan menjadi kenyataan, walaupun sesungguhnya Ibuku sudah tiada.
            Waktu terus bergulir, Mata kuliah terus berganti, Dosen juga ikut berganti, tak terasa sudah 3 mata kuliah kulalui hari ini. Tepat pukul 14.00 aku keluar dari kampus, aku melihat teman-temanku yang lain, mereka da yang langsung pulang, ada yang langsung ke kantin, ada yang nongkrong dulu, ada yang masih saja belajar di perpustakaan. Aku justru ketempat yang ada amanah dan tanggungjawab lain didalamnya. Meskipun akau baru 3 bulan menjadi mahasiswa alias masih Maba atau Mahasiswa Baru, tetapi aku sudah mengikuti beberapa organisasi internal kampus dan eksternal kampus. Ada beberapa Organisasi yang kupilih yakni organisasi Kerohanian, Sospol, dan Alam.
“Roni! Bima! Aku pergi dulu ya??” kataku tersenyum.
“Oh oke.. hati-hati ga..” jawab bima santai di depan gerbang kampus.
“Sip, memangnya kamu mau kemana ga? Pulangkah?” tanya Roni bingung.
“Bukan pulang.., biasalah aktifis baru kerjaanya kayak kura-kura alias kuliah-rapat kuliah-rapat hehe. Ehmmm?! Jadi aku mau ke secretariat BEM UI, ada rapat soalnya aku kan panita MUNAS BEM tahun ini.” Jawabku lengkap.
“Wuihhh mantappp, okelah kalo begitu. Hati-hati ga, tetap semangat!” Kata Roni sambil menganggukkan kepala dan mengepalkan tangannya.
“Mantap ga, aku juga mau ke Sekretariat…” kata bima setengah.
“Sekretariat mana?” tanyaku.
“Biasalah anak seni.. hehe” jawab bima santai.
            Setelah bercakap-cakap kami pun menghilangkan pandangan dan pergi membawa urusan kami masing-masing. Bagiku berorganisasi juga merupakan sesuatu yang juga penting, diman aku bisa belajar banyak hal. Karena jika hanya belajar di kampus, aku tak akan bisa dapat pengalaman lebih. Tetapi jika berorganisasi melakukan aktifitas selain belajar di kampus seperti ikut salah satu LOK (Lembaga Organisasi Kampus) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) aku bisa menyalurkan apapun bakatku, contohnya saja Aku dan Bima yang memiliki minat yang berbeda meskipun sesame mahasiswa Hukum. Jika aku senang dengan Sosial Politik maka aku ikut BEM, sedangkan Bima yang senang Seni maka dia mengikuti UKM seni di kampus.
            Terasa lelah dan kantuk tubuh ini ketika berada di ruang rapat. Namun semua itu hilang seketika saat terjadi diskusi-diskusi seru tentang kepanitiaan. Akupun berusaha menyampaikan pendapat terbaikku. Dalm kepanitiaan selalu ada ketua, sekretaris, bendahara dan bidang-bidang lain. Kami juga selalu ada membahas yang namanya Proposal kegiatan, belum lagi masalah-masalah yang harus diselesaikan seperti biaya, mencari narasumber pengisi acara, dan masih banyak yang harus kami bahas kali ini. Terlihat ketua panitia tampak menguras pikiran. Dalam kepanitiaan ini kami sangat merasakan ada suatu kepentingan, minat, dan tujuan yang sama, sehingga rasa kebersamaan dalam menghadapi setiap tantangan begitu kental terasa.
            Terlihat mentari begitu lelah menyinari hariku, sedikit demi sedikit ia meredupkan sinarnya. Langitpun tampak berwarna orange. Setelah rapat berakhir, aku berjalan pulang menuju kost melewati jalan Lingkar Utara (salah satu jalan yang berada di dalam area kampus). Dengan wajah kusut dan badan yang terasa berat membawa keletihan jelas sulit untukku berjalan. Ingin rasanya aku mengeluh, tetapi itu bukanlah sifat seorang pemimpin sejati, sedangkan cita-citaku adalah menjadi seorang pemimpin negeri yang dapat mensejahterakan rakyat. Memang terpikir dalam otakku bahwa masih ada tugas menumpuk yang harus dikumpulkan esok hari artinya itu harus kuselesaikan malam ini, dan itu kuanggap sebagai sebuah tantangan. Memang terasa sulit ketika aku harus membuat antara kuliah dan organisasi berjalan seimbang. Mimpi dan harapan selalu ada dalam hatiku, tidak peduli walau hari-hariku akan lebih sulit, karena bagiku setiap orang yang sukses didunia ini adalah mereka yang selalu menghadapi kesulitan hidupnya dengan gagah berani, dengan mengangkat mata dan kepalanya penuh keyakinan. Bukannya orang-orang yang lari dari kesulitan.

~Sekian. Karya: I'ib Persada




Post a Comment

0 Comments