Angin
sepoi-sepoi bersuhu dingin pun datang menghampiri, seakan-akan memberi kabar akan
turun berkah dari langit. Meskipun dingin, namun kehangatan segera mendominasi
ketika sanda gurau terlontar di antara kami. Asik berdiskusi ayah dengan paman
dan omku yang datang kerumah, asik bebincang-bincang ibuku dengan bibi dan tanteku, asikku
bermain bersama sepupu-sepupuku.
Ramai sekali rumahku saat ini, bukan
karena esok negeri ini akan merayakan hari jadinya. Tapi karena hendak
menyambut calon khalifah bumi ini, sang cabang bayi kedua keluarga kami. Sanak
saudara berkumpul untuk menyambut kedatangannya di pangkuan ibu pertiwi ini.
Langit semakin gelap, angin bertiup
sangat kencang, tetesan air hujan pun mulai turun. Tiba-tiba seseorang datang.
“Greetarrr,,,
Tharr….,, gretarrr…” terdengar suara halilintar.
“Aduh
kekk, mana jalannya ini, nenek nggak keliatan nih..” tanya nenek pada kakek, di
pelataran rumah, saat hendak bertamu ke rumahku.
“Itulohh
nek, piye toh..” jawab kakek dengan sabar di tengah cuaca hujan deras.
“tok,
tok, tok, Assalamualaikum…” kata nenek.
“Waalaikumsalam
Warahmatullahi Wabarakatuh” jawab kami semua dari dalam rumah.
“Siapa
tuh pak?” tanyaku pada ayah.
“coba
di cek sana nak..!” jawab ayah bingung.
“Oke..”
kataku sambil bergegas ke pintu.
“Ohhh
nenek dan kakek, ya ampun masuk kek nek, hujan tuh di luar.” Kataku tersenyum.
“Iya
Ringga, cucuk kakek yang ganteng..” jawab kakek sambil menutup payungnya dan
memasuki ruangan.
Senang rasanya kakek dan nenek juga datang kerumahku
dari kampong sebelah, padahal diluar rumah sedang hujan. Semakin terasa kehangatan keluarga ini,
meskipun cuaca sedang hujan lebat namun kami sekeluarga bersuka ria karena
hujan ini adalah berkah,
bagi kami memang
akan datang berkah karena si cabang bayi
yang di prediksi dokter akan lahir 2 atau 3 hari lagi.
Tiba-tiba ibuku merasa tidak nyaman,
wajahnya terlihat kusam, gerak-geriknya terlihat kesakitan, tangannya memegangi
pinggang. Sepertinya sudah terjadi pembukaan.
“Aduhh
ayah, sakitt..!!” kata ibuku sambil menahan perasaannya itu.
“Ya
Allah, dek. Kenapa?” kata ayahku khawatir.
“Itu
sepertinya terjadi kontraksi di janin” kata salah seorang bibiku yang bekerja
sebagai perawat.
“Ohh
iya kah… ehmmm bagaimana ya, kita bawa ke rumah bersalin saja gimana?” Tanya
ayahku pada sanak saudara yang lain.
“Iyaa,
kita bawa saja langsung, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, kita harus bertindak cepat!”
kata seorang paman Tentaraku yang bernama Sudirman.
Tanpa berfikir lagi, ayah langsung
bergegas mengeluarkan motor bututnya yang biasa dibawa ke ladang. Diambilnya jas
hujan untuk melindungi ibuku. Tak henti-hentinya ibu memegangi perutnya. Dan
tak henti-hentinya ayah menggenggam tangan ibu. Dihidupkannya motor oleh ayah,
ditengah-tengah hujan lebat dengan jalanan tanah yang becek tak rata. Sejenak
aku berfikir, Rumah bersalin berjarak sekitar 4 km. jelas itu sulit, namun
kulihat tak ada gelisah dan ragu pada wajah ayah. Iya menunjukan rasa
tanggungjawab yang luar biasa.
Semua keluarga pun ikut membantu,
dan membuntuti dari belakang. Paman sudirman langsung bergegas memacu motornya
supaya lebih dahulu sampai di rumah bersalin. Supaya semua bisa bersiap-siap. Terlihat
suasana kampung yang akan menjadi saksi terlahirnya calon khalifah negeri ini,
tak berlebihan jika kami berkata seperti itu karena sudah jadi impian ayah
untuk menjadikan anaknya seorang pemimpin. Rumah-rumah sederhana berdinding
kayu, sawah sawah, bukit-bukit, sungai, dan pepohonan menjadi saksi, bahkan
langit malam ini hujan membawa berkah pun jadi saksi.
Jalan yang dilewati semakin berat,
saat berada di tikungan ayah tak menyadari ada batu besar yang menghalangi
motornya. Tiba-tiba hal yang tak di inginkan pun terjadi. Akhirnya ayah tak
sanggup mempertahankan keseimbangan kemudi motornya, merekapun jatuh ke
genangan air tanah berlumpur.
“Astaghfirullah….”
Respon dari sanaksaudaraku yang lain sambil membantu ayah dan ibu.
Sambil membawa perasaan was-was,
ayah kembali mengemudikan motornya.
“Ya
Allah, kuatkan hambamu ini, berikanlah keselamatan pada istriku dan janinnya.
bismillah”
Jalanan sudah mulai beraspal, artinya
sudah semakin dekat dengan rumah bersalin. Di pacu kencang motor oleh ayah,
kemudian terlihat bangunan yang terdapat wanita berpakaian putih, tampak pula
paman sudirman disana tengah menunggu kami. Sampailah kami di rumah bersalin
tersebut.
“Mbak,
tolong di periksa istri saya ini.. tolong mbak..” kata ayahku memohon.
“Baik
pak,
bapak sekeluarga tunggu disini sebentar, kami akan segera kabari bapak setelah
tahu hasilnya.” Jawab salah seorang bidan dengan lugas.
Dengan wajah cemas sanak saudara
yang lain menunggu sambil berdoa. Dengan sabar ayah menunggu dan berdoa sambil
mondar mandir di ruang tunggu. Kemudian pintu ruangan tempat ibu diperiksa
bergerak.
“Bagaimana
kondisinya mbak?” Tanya ayah khawatir.
“Kondisinya
baik baik saja pak, Alhamdulillah. Sekarang sudah pembukaan 6, semoga saja bisa
normal. Kemungkinan besok lahirannya. Bapak berdoa saja ya..” jawab salah
seorang bidan itu.
“Baik
mbak, terima kasih” jawab ayah pasrah sambil bingung karena berbeda dengan prediksi sebelumnya.
Tak terasa waktu menunjukan
sepertiga malam akhir, waktu yang tepat untuk tahajud. Kemudian ayah pergi menuju masjid dekat rumah
bersalin itu,
untuk menenangkan diri sejenak.
“Ayo
Ringga, ikut ayah sebentar…!” kata ayah sambil merangkulku.
“Iya
Ayah, memangnya mau kemana yah?” tanyaku bingung.
“Kita
mau kerumah
Allah sebentar, hehe” jawab ayah tersenyum berat.
“Hemmm,
oke deh yah, yuk..” kataku tersenyum sambil menahan kantuk.
Saat Ayah tengah tahajud situasi
genting terjadi di rumah bersalin. Para bidan sibuk berlari ke ruang tempat ibu
di rawat. Tampak mereka mengenakan masker dan sarung tangan. Dan kotak medis
dibuka, didalamnya terdapat gunting, pisau, jarum dan
masih banyak yang lainnya. Kemudian salah satu dari mereka menghampiri paman
sudirman.
“Maaf
pak, sepertinya sudah waktunya..!” singkat kata bidan itu sambil menganggukan
kepala.
“Apa..?
ohh, baik mbak terima kasih, kalau begitu tolong ya mbak ya??” kata paman
sudirman memohon.
“Baik
pak kami akan berusaha melakukan yang terbaik.”jawab bidan itu meyakinkan.
Kemudian suasana semakin
menegangkan. Kakek, nenek, bibi, tante, paman, dan omku yang sedang berkumpul
di ruang tunggu itu pun berharap-harap supaya kabar baik yang datang dari ruang
operasi. Paman sudirman pun mencari ayah kemana-mana namun tidak ditemukan juga.
“Pakk!
Tadi saya lihat ada seseorang pergi ke masjid sebelah, mungkin dia yang bapak
cari..” kata seseorang di meja kasir.
Tanpa banyak bicara, paman langsung
menuju masjid, dan saat Ia melihat ayah sedang menengadahkan tangannya.
“Bang
istrimu!” kata paman singkat.
“Ada
apa?, sudah mulai ya?” tanya ayah bingung.
“Iya,
ayo cepatt!” jawab paman memaksa.
Seketika itu ayah langsung menuju
keruang operasi, beruntung Ia di beri izin untuk melihat ibu. Ayah berdiri
disamping kanan kepala ibu yang sedang berbaring, sembari mencoba menenangkan
ibu.
Terdengar suara dentuman kecil jarum jam yang terus
berputar. Derai air mata menguasai kelopak mata dan jatuh ke pipi ibu.
Genggaman tangan kuat dirasakan ayah saat memegangi tangan ibu. Para bidan dan
dokter muda dari kota itu bersibuk menjalankan tugasnya. Aku dan sanak saudara
lain di luar ruangan sedang berdoa memohon kelancaran kepada Tuhan. Alunan
nafas ibu tak beraturan, detak jantung begitu kencang dirasakannya.
Tiba-tiba
terdengar kumandang adzan, hujan pun berhenti seketika menyambut datangnya sang
fajar dari langit. Hiruk pikuk dalam ruangan operasi tempat ibu menjalankan
proses melahirkan pun berhenti seketika menyambut datangnya sang harapan ibu
dan ayah. Terdengar suara tangisan bayi yang masih berwarna merah. Ari-ari
masih menyangkut di perut langsung diserahkan bayi itu oleh bidan ke ayah.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar...” bisik ayah pada sang
bayi si adik kecilku, sambil mendengarkan kalamullah.
Adzan
dan iqomah jadi kalimat pertama yang didengarkan ayah pada sang bayi. Aku
tersenyum lega dan senang setelah 3 tahun hidup menjadi anak tunggal, dan kini
bisa mendapatkan seorang adik yang akan selalu aku sanyangi dan lindungi.
Namun, tiba-tiba aku terngiang perjuangan ibu dan ayah yang sangat luar biasa yang
mungkin Aku tak akan pernah bisa membalaskan semua kebaikan mereka.
Ohh
ibuku, rasa sakit tak kau hiraukan
Malaikat
Izrail mondar mandir kau pasrahkan
Kasih
dan sayang di balut cinta kau berikan
Bahkan
saat aku pertama hadir di pandangan
Ohh ayahku, hujan badai menerjang
kau lalui saja
Lelah berdamping susah sudah tak di
rasa
Amanah dan tanggungjawab terpatri
dalam jiwa
Kaulah suri tauladan sang pemimpin
keluarga
Ohh
ibu dan ayahku, hanya terima kasih yang bisa aku sampaikan
Emas
segunung pun tak bisa menggantikan
Segala
pengorbanan selalu kalian berikan
Kalianlah
pahlawan yang ikhlas tak membawa kebencian
Aku sadari bahwa aku tak akan pernah
bisa membalaskan
Meski sedikit yang kuberikan itu pun
hanyalah kesolehan
Banyak doa kuhanturkan tetap saja
tak setulus doa kalian
Membalas semua itu, aku tak akan
pernah bisa
~Sekian~ Karya: I'ib Persada
0 Comments
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.