Cerpen Aku Tak Akan Pernah Bisa

              Mentari terlihat menyusuri sudut langit ini, ia menepi untuk sementara waktu. Tampak langit mendung di ujung sana dan langit biru menjadi kekuning-kuningan berada di sudut langit yang lain. Hari ini, langit tampak berbeda, langit senja memancarkan sinar mentari di barat berdampingan dengan awan mendung di timur. Sangat indah pemandangan sore itu, tiada hentiku bersyukur atas karya agung Sang Maha Pencipta.
            Angin sepoi-sepoi  bersuhu dingin pun datang  menghampiri, seakan-akan memberi kabar akan turun berkah dari langit. Meskipun dingin, namun kehangatan segera mendominasi ketika sanda gurau terlontar di antara kami. Asik berdiskusi ayah dengan paman dan omku yang datang kerumah, asik bebincang-bincang ibuku dengan bibi dan tanteku, asikku bermain bersama sepupu-sepupuku.
            Ramai sekali rumahku saat ini, bukan karena esok negeri ini akan merayakan hari jadinya. Tapi karena hendak menyambut calon khalifah bumi ini, sang cabang bayi kedua keluarga kami. Sanak saudara berkumpul untuk menyambut kedatangannya di pangkuan ibu pertiwi ini.
            Langit semakin gelap, angin bertiup sangat kencang, tetesan air hujan pun mulai turun. Tiba-tiba seseorang datang.
“Greetarrr,,, Tharr….,, gretarrr…” terdengar suara halilintar.
“Aduh kekk, mana jalannya ini, nenek nggak keliatan nih..” tanya nenek pada kakek, di pelataran rumah, saat hendak bertamu ke rumahku.
“Itulohh nek, piye toh..” jawab kakek dengan sabar di tengah cuaca hujan deras.
“tok, tok, tok, Assalamualaikum…” kata nenek.
“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” jawab kami semua dari dalam rumah.
“Siapa tuh pak?” tanyaku pada ayah.
“coba di cek sana nak..!” jawab ayah bingung.
“Oke..” kataku sambil bergegas ke pintu.
“Ohhh nenek dan kakek, ya ampun masuk kek nek, hujan tuh di luar.” Kataku tersenyum.
“Iya Ringga, cucuk kakek yang ganteng..” jawab kakek sambil menutup payungnya dan memasuki ruangan.
            Senang  rasanya kakek dan nenek juga datang kerumahku dari kampong sebelah, padahal diluar rumah sedang hujan.  Semakin terasa kehangatan keluarga ini, meskipun cuaca sedang hujan lebat namun kami sekeluarga bersuka ria karena hujan ini adalah berkah, bagi kami memang akan datang berkah karena si cabang bayi yang di prediksi dokter akan lahir 2 atau 3 hari lagi.
            Tiba-tiba ibuku merasa tidak nyaman, wajahnya terlihat kusam, gerak-geriknya terlihat kesakitan, tangannya memegangi pinggang. Sepertinya sudah terjadi pembukaan.
“Aduhh ayah, sakitt..!!” kata ibuku sambil menahan perasaannya itu.
“Ya Allah, dek. Kenapa?” kata ayahku khawatir.
“Itu sepertinya terjadi kontraksi di janin” kata salah seorang bibiku yang bekerja sebagai perawat.
“Ohh iya kah… ehmmm bagaimana ya, kita bawa ke rumah bersalin saja gimana?” Tanya ayahku pada sanak saudara yang lain.
“Iyaa, kita bawa saja langsung, takutnya terjadi sesuatu yang  tidak diharapkan, kita harus bertindak cepat!” kata seorang paman Tentaraku yang bernama Sudirman.
            Tanpa berfikir lagi, ayah langsung bergegas mengeluarkan motor bututnya yang biasa dibawa ke ladang. Diambilnya jas hujan untuk melindungi ibuku. Tak henti-hentinya ibu memegangi perutnya. Dan tak henti-hentinya ayah menggenggam tangan ibu. Dihidupkannya motor oleh ayah, ditengah-tengah hujan lebat dengan jalanan tanah yang becek tak rata. Sejenak aku berfikir, Rumah bersalin berjarak sekitar 4 km. jelas itu sulit, namun kulihat tak ada gelisah dan ragu pada wajah ayah. Iya menunjukan rasa tanggungjawab yang luar biasa.
            Semua keluarga pun ikut membantu, dan membuntuti dari belakang. Paman sudirman langsung bergegas memacu motornya supaya lebih dahulu sampai di rumah bersalin. Supaya semua bisa bersiap-siap. Terlihat suasana kampung yang akan menjadi saksi terlahirnya calon khalifah negeri ini, tak berlebihan jika kami berkata seperti itu karena sudah jadi impian ayah untuk menjadikan anaknya seorang pemimpin. Rumah-rumah sederhana berdinding kayu, sawah sawah, bukit-bukit, sungai, dan pepohonan menjadi saksi, bahkan langit malam ini hujan membawa berkah pun jadi saksi.
            Jalan yang dilewati semakin berat, saat berada di tikungan ayah tak menyadari ada batu besar yang menghalangi motornya. Tiba-tiba hal yang tak di inginkan pun terjadi. Akhirnya ayah tak sanggup mempertahankan keseimbangan kemudi motornya, merekapun jatuh ke genangan air tanah berlumpur.
“Astaghfirullah….” Respon dari sanaksaudaraku yang lain sambil membantu ayah dan ibu.
            Sambil membawa perasaan was-was, ayah kembali mengemudikan motornya.
“Ya Allah, kuatkan hambamu ini, berikanlah keselamatan pada istriku dan janinnya. bismillah”
            Jalanan sudah mulai beraspal, artinya sudah semakin dekat dengan rumah bersalin. Di pacu kencang motor oleh ayah, kemudian terlihat bangunan yang terdapat wanita berpakaian putih, tampak pula paman sudirman disana tengah menunggu kami. Sampailah kami di rumah bersalin tersebut.
“Mbak, tolong di periksa istri saya ini.. tolong mbak..” kata ayahku memohon.
“Baik  pak, bapak sekeluarga tunggu disini sebentar, kami akan segera kabari bapak setelah tahu hasilnya.” Jawab salah seorang bidan dengan lugas.
            Dengan wajah cemas sanak saudara yang lain menunggu sambil berdoa. Dengan sabar ayah menunggu dan berdoa sambil mondar mandir di ruang tunggu. Kemudian pintu ruangan tempat ibu diperiksa bergerak.
“Bagaimana kondisinya mbak?” Tanya ayah khawatir.
“Kondisinya baik baik saja pak, Alhamdulillah. Sekarang sudah pembukaan 6, semoga saja bisa normal. Kemungkinan besok lahirannya. Bapak berdoa saja ya..” jawab salah seorang bidan itu.
“Baik mbak, terima kasih” jawab ayah pasrah sambil bingung karena berbeda dengan prediksi sebelumnya.
            Tak terasa waktu menunjukan sepertiga malam akhir, waktu yang tepat untuk tahajud. Kemudian ayah pergi menuju masjid dekat rumah bersalin itu, untuk menenangkan diri sejenak.
“Ayo Ringga, ikut ayah sebentar…!” kata ayah sambil merangkulku.
“Iya Ayah, memangnya mau kemana yah?” tanyaku bingung.
“Kita mau kerumah Allah sebentar, hehe” jawab ayah tersenyum berat.
“Hemmm, oke deh yah, yuk..” kataku tersenyum sambil menahan kantuk.
            Saat Ayah tengah tahajud situasi genting terjadi di rumah bersalin. Para bidan sibuk berlari ke ruang tempat ibu di rawat. Tampak mereka mengenakan masker dan sarung tangan. Dan kotak medis dibuka, didalamnya terdapat gunting, pisau, jarum dan masih banyak yang lainnya. Kemudian salah satu dari mereka menghampiri paman sudirman.
“Maaf pak, sepertinya sudah waktunya..!” singkat kata bidan itu sambil menganggukan kepala.
“Apa..? ohh, baik mbak terima kasih, kalau begitu tolong ya mbak ya??” kata paman sudirman memohon.
“Baik pak kami akan berusaha melakukan yang terbaik.”jawab bidan itu meyakinkan.
            Kemudian suasana semakin menegangkan. Kakek, nenek, bibi, tante, paman, dan omku yang sedang berkumpul di ruang tunggu itu pun berharap-harap supaya kabar baik yang datang dari ruang operasi. Paman sudirman pun mencari ayah kemana-mana namun tidak ditemukan juga.
“Pakk! Tadi saya lihat ada seseorang pergi ke masjid sebelah, mungkin dia yang bapak cari..” kata seseorang di meja kasir.
            Tanpa banyak bicara, paman langsung menuju masjid, dan saat Ia melihat ayah sedang menengadahkan tangannya.
“Bang istrimu!” kata paman singkat.
“Ada apa?, sudah mulai ya?” tanya ayah bingung.
“Iya, ayo cepatt!” jawab paman memaksa.
            Seketika itu ayah langsung menuju keruang operasi, beruntung Ia di beri izin untuk melihat ibu. Ayah berdiri disamping kanan kepala ibu yang sedang berbaring, sembari mencoba menenangkan ibu.
            Terdengar suara dentuman kecil jarum jam yang terus berputar. Derai air mata menguasai kelopak mata dan jatuh ke pipi ibu. Genggaman tangan kuat dirasakan ayah saat memegangi tangan ibu. Para bidan dan dokter muda dari kota itu bersibuk menjalankan tugasnya. Aku dan sanak saudara lain di luar ruangan sedang berdoa memohon kelancaran kepada Tuhan. Alunan nafas ibu tak beraturan, detak jantung begitu kencang dirasakannya.
            Tiba-tiba terdengar kumandang adzan, hujan pun berhenti seketika menyambut datangnya sang fajar dari langit. Hiruk pikuk dalam ruangan operasi tempat ibu menjalankan proses melahirkan pun berhenti seketika menyambut datangnya sang harapan ibu dan ayah. Terdengar suara tangisan bayi yang masih berwarna merah. Ari-ari masih menyangkut di perut langsung diserahkan bayi itu oleh bidan ke ayah.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar...” bisik ayah pada sang bayi si adik kecilku, sambil mendengarkan kalamullah.
            Adzan dan iqomah jadi kalimat pertama yang didengarkan ayah pada sang bayi. Aku tersenyum lega dan senang setelah 3 tahun hidup menjadi anak tunggal, dan kini bisa mendapatkan seorang adik yang akan selalu aku sanyangi dan lindungi. Namun, tiba-tiba aku terngiang perjuangan ibu dan ayah yang sangat luar biasa yang mungkin Aku tak akan pernah bisa membalaskan semua kebaikan mereka.
Ohh ibuku, rasa sakit tak kau hiraukan
Malaikat Izrail mondar mandir kau pasrahkan
Kasih dan sayang di balut cinta kau berikan
Bahkan saat aku pertama hadir di pandangan
            Ohh ayahku, hujan badai menerjang kau lalui saja
            Lelah berdamping susah sudah tak di rasa
            Amanah dan tanggungjawab terpatri dalam jiwa
            Kaulah suri tauladan sang pemimpin keluarga
Ohh ibu dan ayahku, hanya terima kasih yang bisa aku sampaikan
Emas segunung pun tak bisa menggantikan
Segala pengorbanan  selalu kalian berikan
Kalianlah pahlawan yang ikhlas tak membawa kebencian
            Aku sadari bahwa aku tak akan pernah bisa membalaskan
            Meski sedikit yang kuberikan itu pun hanyalah kesolehan
            Banyak doa kuhanturkan tetap saja tak setulus doa kalian
            Membalas semua itu, aku tak akan pernah bisa

~Sekian~ Karya: I'ib Persada


Post a Comment

0 Comments