Lonceng
itu sudah sangat tua bahkan lebih tua dari umurku, lonceng yang sudah bolong
dan berkarat termakan usia dan terkikis oleh air hujan yang sudah tercemar.
Meskipun lonceng itu sudah tua, namun itu sudahlah cukup. Menggunakan bel
listrik itu adalah hal yang sangat sulit dicari di desa kami, karena desa kami
bukan kota metropolitan.
Aku
bersekolah di SDN 177 Kubu Raya duduk di kelas 6 SD, jika dilihat dari luar
sekolahku seperti gudang yang kumuh, atapnya pun bolong karena sudah tua,
dindingnya terbuat dari kayu yang sudah berlumut dan rapuh, terkadang aku berbagi
tempat duduk karena jumlah kursi yang sedikit padahal ada banyak semangat
anak-anak desaku yang ingin bersekolah, lantainya pun akan mengeluarkan bunyi
berdecit bila dilalui.
Sekolahku
berada di desa yang sangat asri, namanya Desa Obiyek, terletak jauh dari pusat
ekonomi Kubu Raya dan Pontianak. Desa yang mencerminkan potret kondisi penduduk
yang tidak diperhatikan pemerintah, padahal desa ini bukan lah desa yang
terlalu jauh dari kota jika menggunakan motor mungkin akan memakan waktu
sekitar 1 jam perjalanan. Tohh, namun nyatanya desaku sangat memprihatinkan. Tak
ada sehelaipun jalan aspal di desaku, hanya ada sedikit rumah yang menggunakan
bahan dasar semen, sisanya adalah rumah
dengan bahan dasar kayu. Jalanannya pun terbuat dari tanah, jika musim hujan
maka jalan itu akan becek dan berlumpur yang bisa menenggelamkan setengah dari
ban motor atau sepedah, jika musim panas maka jalan itu akan berdebu yang bisa
menyesakkan nafas, membuat mata kelilipan, dan mengurangi jarak pandang. Desaku dilalui oleh saluran
anak Sungai Kapuas, airnya berwarna hitam seperti warna air teh hitam yang
biasa kita minum, hal itu bisa terjadi karena tanah di desaku adalah tanah yang
memiliki kompleksitas organik makromolekular yang
mengandung banyak kandungan seperti fenol, asam karboksilat, dan alifatik hidroksida. Tanah jenis ini biasa disebut tanah humus si tanah
tropis yang sangat subur.
Lonceng
berbunyi tepat pukul 13.00 sebagai tanda waktu pulang sekolah telah tiba.
Namun, waktu pulang sekolah adalah waktu yang tidak disukai oleh Dewa si pintar
yang bersemangat. Dewa adalah seorang anak keturunan Tionghoa yang berwajah
putih, berkulit putih, bermata sipit, dan berambut tipis yang lurus. Beda
halnya dengan Karim si kreatif layaknya seniman, dia adalah seorang anak orang
jawa sama sepertiku. Biasanya aku masih mendengar dia berbicara dengan logat
jawa, wajahnya oval berkulit sawo matang. Kalau dilihat dari fisik, Karim ini
sebelas duabelas denganku, bedanya dia berambut tebal dan lurus sedangkan aku
berambut ikal. Satu hal yang aku sukai dari Karim yakni dengan suaranya yang
merdu dan dengan kemampuan bersyair serta berpuisinya yang baik itu kadang
membuatku senang saat resah hati ini. Dan ada satu lagi teman dekatku, ia
bernama karyo yang bagiku dia ini aneh. Terlahir dari suku dayak namun bernama
jawa, badannya adalah yang paling pendek dari kami bertiga, sifatnya pendiam
dan pemalu sebuah sifat yang tak mencerminkan orang dayak yang pemberani.
Terlebih lagi jika ia berbicara dengan wanita, sudah dipastikan pasti dia akan
tak bisa berbicara seperti bisu dan lidahnya seperti beku.
Itulah
ketiga temanku kami adalah teman baik, kami adalah sahabat, dan kami adalah
empat sekawan yang tak terpisahkan seperti ada maknet di dalam tubuh kami, kami
saling tarik menarik justru karena perbedaan yang kami miliki.
“Baikk,
anak-anak sudah waktunya pulang dan sekarang kemasi barang-barang kalian” kata
guruku yang biasa kupanggil Ibu Nur Madiah.
“Iyaaaa,
buuu,” jawab kami sekelas dengan kompak.
“Yeee,
yeee, pulangg..” kata Karim berbicara sendiri.
“Huuu,
masih juga enak di sekolah, kalau dirumahkan susah belajarnya..” kata Dewa pada
Karim yang duduk sebangku di belakang bangkuku.
“sudah-sudah..,
kalo dibiarin nanti bisa perang nih. Ohh iya, ngomong-ngomong karyo dimana ya?
Kok dia nggak masuk kelas hari ini tanpa kabar.” Kataku menanyakan si karyo
teman sebangkuku.
“Entahlah,
tadi pagi pun aku kerumahnya untuk menjemput. Tapi, rumahnya tak ada orang.”
kata Dewa bingung.
“Mungkin
dia membantu bapaknya di ladang, atau dia sakit terus dititipkan di rumah
neneknya saat bapak ibunya pergi ke ladang.” Kata Karim mengira-ngira.
“Kalau
begitu, setelah ini kita kerumahnya jak..” kataku sambil memasukkan buku ke
dalam tas.
Setelah berbincang-bincang sedikit
sambil mengemaskan barang. Lalu, kami berdoa, setelah itu kami bersalaman dan
keluar dari kelas. Saat kami berjalan melalui gerbang sekolah seakan-akan kami
berada pada zaman Prasejarah yang tak mengenal tulisan. Disana terlihat
orang-orang dengan sepedah membawa karung berisikan rumput untuk pakan
ternaknya. Ada pula orang-orang dengan sepedah membawa karung yang berisikan
jagung hasil panen. Juga terlihat orang-orang dengan sepedah membawa karung
yang berisikan Aloe Vera (Lidah Buaya) ajaib, kenapa ajaib, karena itu adalah
salah satu Aloe Vera terbaik di dunia. Siapa sangka desaku merupakan salah satu
dari banyak desa di Kalimantan barat yang mampu menghasilkan Aloe Vera yang
berstandar internasional. Namun sayang, meskipun tanahnya subur, cahaya
matahari selalu bersinar setiap tahun. Tetapi, kemakmuran petaninya seperti
ayahku, ayah Dewa, Ayah Karim, dan Ayah Karyo masih saja jauh dari kata
sejahterah mungkin karena harga jual hasil panen yang rendah, belum lagi harga
sembako yang mahal. Ditambah lagi sumber energi seperti minyak dan gas yang
sangat langka di desa kami. Sehingga tidak heran jika di desaku masih banyak
masyarakat yang memasak menggunakan tungku kayu bakar yang berasal dari hutan.
Siang hari itu sangat cerah,
matahari bersinar sempurna. Angin sepoi-sepoi berhembus melewati kami bertiga
beriringan dengan keceriaan yang kami pancarkan pulang sekolah saat itu.
Meskipun kami harus melewati jalan bertanah, melnyeberangi anak sungai Kapuas,
melalui hutan, sawah, semak-semak, ladang jagung, ladang Aloe Vera, bahkan yang
paling asyik adalah ketika kami melewati kebun rambutan yang buahnya sedang
memerah. Dan setiap kali kami berpapasan dengan warga, mereka selalu memberi
keramahan pada kami. Semua itu selalu kami lalui setiap pergi dan pulang
sekolah yang jaraknya sekitar 4 kilo meter.
Ada suatu tempat yang selalu kami
hindari saat melewatinya. Yakni sebuah rumah buruk di hutan yang terbuat dari kayu pohon
ketapang. Didalamnya tinggal seorang kakek tua sendirian yang wajahnya terlihat
berwarna putih pucat, rambutnya pun putih, badannya bungkuk, juga matanya yang
berwarna merah. Jarang sekali kami melihat kakek itu melakukan interaksi dengan
warga desaku, begitu pula sebaliknya tidak ada warga yang juga terlihat
melakukan interaksi dengan kakek itu. Jadi, kami selalu menghaluskan langkah
dan berhati-hati saat melewati rumah kakek itu.
Karena saking asyiknya kami
bercerita dan bersanda gurau dalam perjalanan pulang rupanya kami sudah sangat
dekat dengan rumah. Lalu, dilewatilah oleh kami jembatan kayu belian sederhana
di depan pekarangan rumah karyo yang dilalui parit kecil.
“Tokk,
tokkk, tokk…” Dewa mengetuk pintu.
“Selamat
Sianggg…,” kataku.
Sekian menit menunggu dan beberapa
kali mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumah.
“Nggak
ada orang nih..” kata karmin.
“Raga!,
kita ke tempat neneknya saja..” kata dewa mengusulkan.
“Ohh,
iya sip ayooo..” ajakku.
Lalu Aku, Dewa, dan Karmin pergi
kerumah neneknya karyo yang tak jauh dari rumahnya. Terlihat sang nenek sedang
memberikan pakan ternaknya.
“Siang
nek,, karyo ada nek?” tanyaku.
“Iya
siang, wahh ndak ada cuk, mungkin dia di ladang..” jawab nenek.
“Ohh
iya nek, terima kasih.” Kataku.
Terlihat dilangit saat ini sang
mentari berjalan menuju tempat peristirahatannya. Langit semakin berwarna merah
kekuning-kuningan. Tiba-tiba, saat kami berjalan menuju ladang, kami berpapasan
jalan dengan orang tua karyo.
“Pak
pak!!! Berhenti dulu..” kataku dengan nada tinggi.
“Kenapa
kok kamu terlihat gusar..” kata ayah karyo.
“Lohh
kok, bukannya dia selalu bersama kalian? Kalau tadi pagi dia pergi awal sekali
dan sendirian. Karena bapak menyuruh dia mengantar pupuk ke tempat pamannya
yang juga akan ke ladang pagi sekali.” Jawab ayah karyo lengkap.
“Ohh
begitu pak, pantas saja tadi pagi karyo tak ada di rumah.” Sahut Dewa.
“Wahh
bagaimana ini, kemana karyo? Kalau begitu bapak minta tolong supaya kalian
mencari karyo, nanti bapak juga akan mencarinya tapi setelah bapak melapor ke
pak Kades.” Kata ayah karyo.
“Ohh.
Siap pak, kami pergi dulu..” jawabku sambil mengerutkan dahi.
“iya,
terimaksih ya nak” kata ayah karyo.
“sama-sama
pak” jawab ku sambil meninggalkannya.
Setelah itu Aku dan teman-teman
pergi menyusuri jalan setapak untuk mengelilingi desa. Saat kami hendak masuk
ke dalam hutan tampak seseorang berlari kearah kami.
“Heii
ga, tadi abang melihat karyo di rumah datuk Kalingging di dalam hutan..” jawab
abangku tergesa-gesa dengan nafas tak beraturan.
“apa,
yang benar saja bang?” tanyaku bingung.
“Iyaa,
benar. Ayoo kita kerumah datuk kalingging, abang takut terjadi sesuatu pada
karyo.” Kata abangku.
“Ohh,
baik bang..” jawab kami kompak.
“Tapi,
salah satu dari kita harus menyampaikan berita ini pada pak kades orang tua
karyo. Siapa mau?” tanya abangku.
“Biar
aku saja..!” jawab Dewa dengan sigap.
Setelah itu kami memisahkan diri
dengan Dewa. Aku, Karim dan Abangku yang berjarak 3 tahun lebih tua dariku
pergi memberanikan diri masuk ke hutan menuju rumah Datuk Kalingging meskipun
dengan perasaan takut.
Terdapat pohon besar di depan rumah
Datuk Kalingging. Kamipun bersembunyi di pohon itu sambil melihat-lihat
situasi. Namun terlihat hal aneh saat itu, tak seperti yang kami pikirkan
selama ini tentang Datuk kalingging yang terlihat menyeramkan. Tampak Karyo
sedang meminum the panas dan berbincang-bincang dengan Datuk Kalingging di
kursi kayu depan rumah itu. Terdapat potongan kayu bakar dan api unggun di
dekat mereka, juga terlihat ubi-ubi kayu yang sedang di bakar. Juga tampak
jelas kaki Karyo di balut kain yang memiliki bercak berwarna merah darah.
Lalu kami berusaha memberanikan
diri untuk menghampiri Datuk Kalingging.
Bertemulah kami secara langsung untuk pertama kalinya dengan Datuk Kalingging,
rupanya dia seorang yang ramah dan murah senyum. Seketika itu kami ditawari the panas oleh
Datuk Kalingging dan berceritalah karyo panjang lebar tentang Datuk Kalingging.
Ternyata Datuk Kalingging dulunya adalah seorang transmigran dari pulau jawa
pada masa awal kemerdekaaan negar Indonesia. Namun terjadi bencana saat ia
pergi berlayar ke Kalimantan yakni kapal yang ia naiki karam di selat karimata
dan kemudian tenggelam. Dan yang lebih mengenskan lagi seluruh keluarganya
termasuk anak-anak dan istrinya semuanya tak berhasil selamat kecuali ia yang
pada saat itu di selamatkan oleh seorang nelayan setelah selama 1 hari terapung
di lautan. Oleh karena itu, dia sangat merasa kehilangan sehingga mengasingkan
diri di dalam hutan ini dan hanya ditemani kesedihan yang sulit untuk bisa
terlupakan.
“Alhamdulillah,
gara-gara Karyo yang tersungkur dan pingsan di dekat hutan pagi tadi, kakek
jadi bisa tersenyum melihat gayanya yang pemalu dan penakut itu. Kemudian kakek
merawatnya untuk sementara waktu.” Kata kakek kalingging dengan ramah.
Tidak lama kemudian, datang pak
Kades dan warga lain, juga terlihat Dewa bersama mereka. Kami ceritakanlah
semuanya kepada Pak Kades tentang Datuk Kalingging. Pak kades pun mengajak
Datuk Kalingging tinggal bersama kami di desaku supaya dapat menemukan keluarga
baru disana.
Tidak terasa sore berganti malam,
terlihat angkasa berlintang-lintang malam itu. Berakhirlah petualangan kami si
empat sekawan hari ini dan besok kami akan menyambut hari baru dengan
petualangan yang berbeda dan bermakna. Dengan
rasa peduli dan saling percayalah yang dapat menguatkan persahabatan
ini. Berjalan kami menuju rumah saling merangkul dan menyanyi serta bersanda
gurau, tak peduli meskipun banyak warga di sekeliling kami malam itu, karena
kami ditemani bulan dan bintang yang juga ikut bernyanyi bersama kami.
~Sekian. Karya: "I'ib Persada"
0 Comments
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.