Cerpen The Fantastic Four

"Teng..tenggg.. tenggg...." terdengar suara lonceng besi yang dibunyikan oleh Bapak Kepala Sekolahku yang bernama Ahmad Annam, sebagai pertanda waktu pulang sekolah telah tiba.
Lonceng itu sudah sangat tua bahkan lebih tua dari umurku, lonceng yang sudah bolong dan berkarat termakan usia dan terkikis oleh air hujan yang sudah tercemar. Meskipun lonceng itu sudah tua, namun itu sudahlah cukup. Menggunakan bel listrik itu adalah hal yang sangat sulit dicari di desa kami, karena desa kami bukan kota metropolitan. 
Aku bersekolah di SDN 177 Kubu Raya duduk di kelas 6 SD, jika dilihat dari luar sekolahku seperti gudang yang kumuh, atapnya pun bolong karena sudah tua, dindingnya terbuat dari kayu yang sudah berlumut dan rapuh, terkadang aku berbagi tempat duduk karena jumlah kursi yang sedikit padahal ada banyak semangat anak-anak desaku yang ingin bersekolah, lantainya pun akan mengeluarkan bunyi berdecit bila dilalui.
Sekolahku berada di desa yang sangat asri, namanya Desa Obiyek, terletak jauh dari pusat ekonomi Kubu Raya dan Pontianak. Desa yang mencerminkan potret kondisi penduduk yang tidak diperhatikan pemerintah, padahal desa ini bukan lah desa yang terlalu jauh dari kota jika menggunakan motor mungkin akan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Tohh, namun nyatanya desaku sangat memprihatinkan. Tak ada sehelaipun jalan aspal di desaku, hanya ada sedikit rumah yang menggunakan bahan dasar semen,  sisanya adalah rumah dengan bahan dasar kayu. Jalanannya pun terbuat dari tanah, jika musim hujan maka jalan itu akan becek dan berlumpur yang bisa menenggelamkan setengah dari ban motor atau sepedah, jika musim panas maka jalan itu akan berdebu yang bisa menyesakkan nafas, membuat mata kelilipan, dan mengurangi  jarak pandang. Desaku dilalui oleh saluran anak Sungai Kapuas, airnya berwarna hitam seperti warna air teh hitam yang biasa kita minum, hal itu bisa terjadi karena tanah di desaku adalah tanah yang memiliki kompleksitas organik makromolekular yang mengandung banyak kandungan seperti fenol, asam karboksilat, dan alifatik hidroksida. Tanah jenis ini biasa disebut tanah humus si tanah tropis yang sangat subur.
Lonceng berbunyi tepat pukul 13.00 sebagai tanda waktu pulang sekolah telah tiba. Namun, waktu pulang sekolah adalah waktu yang tidak disukai oleh Dewa si pintar yang bersemangat. Dewa adalah seorang anak keturunan Tionghoa yang berwajah putih, berkulit putih, bermata sipit, dan berambut tipis yang lurus. Beda halnya dengan Karim si kreatif layaknya seniman, dia adalah seorang anak orang jawa sama sepertiku. Biasanya aku masih mendengar dia berbicara dengan logat jawa, wajahnya oval berkulit sawo matang. Kalau dilihat dari fisik, Karim ini sebelas duabelas denganku, bedanya dia berambut tebal dan lurus sedangkan aku berambut ikal. Satu hal yang aku sukai dari Karim yakni dengan suaranya yang merdu dan dengan kemampuan bersyair serta berpuisinya yang baik itu kadang membuatku senang saat resah hati ini. Dan ada satu lagi teman dekatku, ia bernama karyo yang bagiku dia ini aneh. Terlahir dari suku dayak namun bernama jawa, badannya adalah yang paling pendek dari kami bertiga, sifatnya pendiam dan pemalu sebuah sifat yang tak mencerminkan orang dayak yang pemberani. Terlebih lagi jika ia berbicara dengan wanita, sudah dipastikan pasti dia akan tak bisa berbicara seperti bisu dan lidahnya seperti beku.
Itulah ketiga temanku kami adalah teman baik, kami adalah sahabat, dan kami adalah empat sekawan yang tak terpisahkan seperti ada maknet di dalam tubuh kami, kami saling tarik menarik justru karena perbedaan yang kami miliki.
“Baikk, anak-anak sudah waktunya pulang dan sekarang kemasi barang-barang kalian” kata guruku yang biasa kupanggil Ibu Nur Madiah.
“Iyaaaa, buuu,” jawab kami sekelas dengan kompak.
“Yeee, yeee, pulangg..” kata Karim berbicara sendiri.
“Huuu, masih juga enak di sekolah, kalau dirumahkan susah belajarnya..” kata Dewa pada Karim yang duduk sebangku di belakang bangkuku.
“sudah-sudah.., kalo dibiarin nanti bisa perang nih. Ohh iya, ngomong-ngomong karyo dimana ya? Kok dia nggak masuk kelas hari ini tanpa kabar.” Kataku menanyakan si karyo teman sebangkuku.
“Entahlah, tadi pagi pun aku kerumahnya untuk menjemput. Tapi, rumahnya tak ada orang.” kata Dewa bingung.
“Mungkin dia membantu bapaknya di ladang, atau dia sakit terus dititipkan di rumah neneknya saat bapak ibunya pergi ke ladang.” Kata Karim mengira-ngira.
“Kalau begitu, setelah ini kita kerumahnya jak..” kataku sambil memasukkan buku ke dalam tas.
            Setelah berbincang-bincang sedikit sambil mengemaskan barang. Lalu, kami berdoa, setelah itu kami bersalaman dan keluar dari kelas. Saat kami berjalan melalui gerbang sekolah seakan-akan kami berada pada zaman Prasejarah yang tak mengenal tulisan. Disana terlihat orang-orang dengan sepedah membawa karung berisikan rumput untuk pakan ternaknya. Ada pula orang-orang dengan sepedah membawa karung yang berisikan jagung hasil panen. Juga terlihat orang-orang dengan sepedah membawa karung yang berisikan Aloe Vera (Lidah Buaya) ajaib, kenapa ajaib, karena itu adalah salah satu Aloe Vera terbaik di dunia. Siapa sangka desaku merupakan salah satu dari banyak desa di Kalimantan barat yang mampu menghasilkan Aloe Vera yang berstandar internasional. Namun sayang, meskipun tanahnya subur, cahaya matahari selalu bersinar setiap tahun. Tetapi, kemakmuran petaninya seperti ayahku, ayah Dewa, Ayah Karim, dan Ayah Karyo masih saja jauh dari kata sejahterah mungkin karena harga jual hasil panen yang rendah, belum lagi harga sembako yang mahal. Ditambah lagi sumber energi seperti minyak dan gas yang sangat langka di desa kami. Sehingga tidak heran jika di desaku masih banyak masyarakat yang memasak menggunakan tungku kayu bakar yang berasal dari hutan.
            Siang hari itu sangat cerah, matahari bersinar sempurna. Angin sepoi-sepoi berhembus melewati kami bertiga beriringan dengan keceriaan yang kami pancarkan pulang sekolah saat itu. Meskipun kami harus melewati jalan bertanah, melnyeberangi anak sungai Kapuas, melalui hutan, sawah, semak-semak, ladang jagung, ladang Aloe Vera, bahkan yang paling asyik adalah ketika kami melewati kebun rambutan yang buahnya sedang memerah. Dan setiap kali kami berpapasan dengan warga, mereka selalu memberi keramahan pada kami. Semua itu selalu kami lalui setiap pergi dan pulang sekolah yang jaraknya sekitar 4 kilo meter.
            Ada suatu tempat yang selalu kami hindari saat melewatinya. Yakni sebuah rumah buruk  di hutan yang terbuat dari kayu pohon ketapang. Didalamnya tinggal seorang kakek tua sendirian yang wajahnya terlihat berwarna putih pucat, rambutnya pun putih, badannya bungkuk, juga matanya yang berwarna merah. Jarang sekali kami melihat kakek itu melakukan interaksi dengan warga desaku, begitu pula sebaliknya tidak ada warga yang juga terlihat melakukan interaksi dengan kakek itu. Jadi, kami selalu menghaluskan langkah dan berhati-hati saat melewati rumah kakek itu.
            Karena saking asyiknya kami bercerita dan bersanda gurau dalam perjalanan pulang rupanya kami sudah sangat dekat dengan rumah. Lalu, dilewatilah oleh kami jembatan kayu belian sederhana di depan pekarangan rumah karyo yang dilalui parit kecil.
“Tokk, tokkk, tokk…” Dewa mengetuk pintu.
“Selamat Sianggg…,” kataku.
            Sekian menit menunggu dan beberapa kali mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumah.
“Nggak ada orang nih..” kata karmin.
“Raga!, kita ke tempat neneknya saja..” kata dewa mengusulkan.
“Ohh, iya sip ayooo..” ajakku.
            Lalu Aku, Dewa, dan Karmin pergi kerumah neneknya karyo yang tak jauh dari rumahnya. Terlihat sang nenek sedang memberikan pakan ternaknya.
“Siang nek,, karyo ada nek?” tanyaku.
“Iya siang, wahh ndak ada cuk, mungkin dia di ladang..”  jawab nenek.
“Ohh iya nek, terima kasih.” Kataku.
 
            Terlihat dilangit saat ini sang mentari berjalan menuju tempat peristirahatannya. Langit semakin berwarna merah kekuning-kuningan. Tiba-tiba, saat kami berjalan menuju ladang, kami berpapasan jalan dengan orang tua karyo.
“Pak pak!!! Berhenti dulu..” kataku dengan nada tinggi.
“Kenapa kok kamu terlihat gusar..” kata ayah karyo.
“Lohh kok, bukannya dia selalu bersama kalian? Kalau tadi pagi dia pergi awal sekali dan sendirian. Karena bapak menyuruh dia mengantar pupuk ke tempat pamannya yang juga akan ke ladang pagi sekali.” Jawab ayah karyo lengkap.
“Ohh begitu pak, pantas saja tadi pagi karyo tak ada di rumah.” Sahut Dewa.
“Wahh bagaimana ini, kemana karyo? Kalau begitu bapak minta tolong supaya kalian mencari karyo, nanti bapak juga akan mencarinya tapi setelah bapak melapor ke pak Kades.” Kata ayah karyo.
“Ohh. Siap pak, kami pergi dulu..” jawabku sambil mengerutkan dahi.
“iya, terimaksih ya nak” kata ayah karyo.
“sama-sama pak” jawab ku sambil meninggalkannya.
            Setelah itu Aku dan teman-teman pergi menyusuri jalan setapak untuk mengelilingi desa. Saat kami hendak masuk ke dalam hutan tampak seseorang berlari kearah kami.
“Heii ga, tadi abang melihat karyo di rumah datuk Kalingging di dalam hutan..” jawab abangku tergesa-gesa dengan nafas tak beraturan.
“apa, yang benar saja bang?” tanyaku bingung.
“Iyaa, benar. Ayoo kita kerumah datuk kalingging, abang takut terjadi sesuatu pada karyo.” Kata abangku.
“Ohh, baik bang..” jawab kami kompak.
“Tapi, salah satu dari kita harus menyampaikan berita ini pada pak kades orang tua karyo. Siapa mau?” tanya abangku.
“Biar aku saja..!” jawab Dewa dengan sigap.
            Setelah itu kami memisahkan diri dengan Dewa. Aku, Karim dan Abangku yang berjarak 3 tahun lebih tua dariku pergi memberanikan diri masuk ke hutan menuju rumah Datuk Kalingging meskipun dengan perasaan takut.
            Terdapat pohon besar di depan rumah Datuk Kalingging. Kamipun bersembunyi di pohon itu sambil melihat-lihat situasi. Namun terlihat hal aneh saat itu, tak seperti yang kami pikirkan selama ini tentang Datuk kalingging yang terlihat menyeramkan. Tampak Karyo sedang meminum the panas dan berbincang-bincang dengan Datuk Kalingging di kursi kayu depan rumah itu. Terdapat potongan kayu bakar dan api unggun di dekat mereka, juga terlihat ubi-ubi kayu yang sedang di bakar. Juga tampak jelas kaki Karyo di balut kain yang memiliki bercak berwarna merah darah.
            Lalu kami berusaha memberanikan diri  untuk menghampiri Datuk Kalingging. Bertemulah kami secara langsung untuk pertama kalinya dengan Datuk Kalingging, rupanya dia seorang yang ramah dan murah senyum.  Seketika itu kami ditawari the panas oleh Datuk Kalingging dan berceritalah karyo panjang lebar tentang Datuk Kalingging. Ternyata Datuk Kalingging dulunya adalah seorang transmigran dari pulau jawa pada masa awal kemerdekaaan negar Indonesia. Namun terjadi bencana saat ia pergi berlayar ke Kalimantan yakni kapal yang ia naiki karam di selat karimata dan kemudian tenggelam. Dan yang lebih mengenskan lagi seluruh keluarganya termasuk anak-anak dan istrinya semuanya tak berhasil selamat kecuali ia yang pada saat itu di selamatkan oleh seorang nelayan setelah selama 1 hari terapung di lautan. Oleh karena itu, dia sangat merasa kehilangan sehingga mengasingkan diri di dalam hutan ini dan hanya ditemani kesedihan yang sulit untuk bisa terlupakan.
“Alhamdulillah, gara-gara Karyo yang tersungkur dan pingsan di dekat hutan pagi tadi, kakek jadi bisa tersenyum melihat gayanya yang pemalu dan penakut itu. Kemudian kakek merawatnya untuk sementara waktu.” Kata kakek kalingging dengan ramah.
            Tidak lama kemudian, datang pak Kades dan warga lain, juga terlihat Dewa bersama mereka. Kami ceritakanlah semuanya kepada Pak Kades tentang Datuk Kalingging. Pak kades pun mengajak Datuk Kalingging tinggal bersama kami di desaku supaya dapat menemukan keluarga baru disana.
            Tidak terasa sore berganti malam, terlihat angkasa berlintang-lintang malam itu. Berakhirlah petualangan kami si empat sekawan hari ini dan besok kami akan menyambut hari baru dengan petualangan yang berbeda dan bermakna. Dengan  rasa peduli dan saling percayalah yang dapat menguatkan persahabatan ini. Berjalan kami menuju rumah saling merangkul dan menyanyi serta bersanda gurau, tak peduli meskipun banyak warga di sekeliling kami malam itu, karena kami ditemani bulan dan bintang yang juga ikut bernyanyi bersama kami.

~Sekian. Karya: "I'ib Persada"

Post a Comment

0 Comments